HANEDA INTERNATIONAL AIRPORT: GATEWAY TO TOKYO FROM THE GLOBAL COMMUNITY

Haneda Airport Area via Satelite - Labeled

Whoa, sure Tama not going to tolerate any longer about me that keep writing article in Bahasa Indonesia; gezz, cut me some slack will you? Hmm, its figures that Tama going to active an article source gathering while I’m going to write some words and post-up over the internet. But still she is going to let me write up some article in Bahasa Indonesia sometimes. She said “don’t get the wrong point I’m letting you write sometimes not because you’re sulking about it but because I’m realize you’ve got avid reader from Indonesia” ~ …… tsundere! But I wonder why she’s so angry when I called her tsundere, personally I think she’s cute that way.

Well, this is trivia information that like Hawaii, Japan was formed as a result of volcanic activity. Japan doesn’t just have mountains. It would be more accurate to say Japan is mountains. From virtually any point in Japan, you can see mountains in just about any direction you have an unobstructed view of the skyline. This is one thing I love about the way the country looks. Seeing those hazy, low-lying mountains in the distance always reminds you you’re in Japan.  Also relax, we aren’t going to discuss about Japan geography this time because that topic could go in another time but still we’ve stated it that Japan is mountainous region.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Mie Ramen Jepang ~ Makanan Populer Masyarakat Kota Tokyo

Warung ramen penuh sekan dengan pelanggan pada jam makan siang

Okay, siapa diantara anda yang suka makan mie? Tidak perlu dijawab pasti sebagian besar suka makan mie, dan mie juga telah menjadi makanan populer secara internasional. Kali ini saya akan membahas mengenai mie ramen… yup, mie yang satu ini cukup populer di negeri matahari sehingga menarik minat saya untuk membahasnya (hehehe, padahal saya membahas masalah ini sehabis makan mie ramen tersebut; hmm, mungkin ini yang namanya kesan sehabis mencoba ya?). Dan satu hal lagi sebelum saya menerbitkan artikel ini sebenarnya saya sempat berdebat karena dia ingin meneguhkan standar bahwa artikel yang dipublikasikan pada weblog ini sebaikanya berbahasa Inggris karena memang target pembaca terbesar memang bukan pembaca yang berbahasa Indonesia ~ ehm, Tama bilang bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang banyak dipakai orang (uhm, maklum ide artikel dan sumber juga dia yang cari sih) akan tetapi setelah dirundingkan akhirnya kita sepakat saya diperbolehkan mepublikasikan artikel yang saya tangani kecuali artikel tersebut merupakan kategori visual novel, anime, 4koma, dan tutorial menggambar. Umm…~ sudah cukup celothan intermezzonya dan langsung saja kita masuk ke dalam topic utama. Santailah dalam membaca jika perlu pergi minum dan ke toilet dulu supaya santai membacanya, hehehe…

P.S. saya juga sertakan komentar staff weblog yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia

  Baca tulisan ini lebih lanjut

My Own Report About Java Jazz Festival 2011

My Own Report about Java Jazz Festival 2011, Ta – daa!!

Hello, everyone; it’s been awhile since my last update in this web-blog. Sorry, my pc had been down recently, I had it fixed last Sunday, and so SPN update being pending for about two weeks. Okay, back to topic – this time I would like to discuss about Java Jazz Festival that happened on Friday, March 4 until Sunday, March 6 in Jakarta International Expo.

Well, I know this topic somewhat overdue but I have three reasons:

1. Didn’t I mention about technical problem in my PC?

2. Well, somehow I lost my data cable for my mobile and found it three days later.

3. Actually, I did not have any intention to post this topic at all but my friend insisted that I should write it in my blog. Somehow, he needs to show it to his lecturer.

p.s. – you might be find out that the picture about Java Jazz Festival appear to be in low quality, because I forgot to bring my digital camera at that time and instead we use cam function in my mobile. Suck that I just realized about it on the way to the expo. [*update: oops, it’s seems my photos were gone because my pc crashed recently but Christ has the backup and I’ll ask him to send it to me on Sunday and so for awhile I won’t post actual picture of Java Jazz Festival; sorry everyone] another update: Finally, the photos is posted but consided time interval it’s proven that I’m one of big lazy bum, heheje :)

Therefore, let us keep going to talk about Java Jazz Festival. Okay, I could get my time on Saturday to go to the festival together with my friend – Christ and thanks to Wimax (especially, Christ’s sister); we can get our free daily pass ticket. We checked the daily pass ticket in the internet and the price for Saturday pass around Rp. 360.000,00,- ; not cheap yet still reasonable. We are arrived in the expo at 16.30 and we saw bloody long line in the front of the entrance. Fortunately, although the line is long, its pace is quick enough so we just spend about 10 minutes in front of the entrance.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Costa Rica, Bangsa Yang Paling Bahagia di Dunia

Costa Rica adalah salah satu dari sedikit negara yang berani menghapus angkatan bersenjatanya, dan mungkin adalah bangsa yang paling bahagia di dunia.

 

Ada beberapa cara untuk mengukur kebahagiaan di Negara-negaram walau semuanya tidak berani menjamin pasti seperti rumus matematika. Dan mutiara dari benua Amerika ini selalu mendapat nilai tinggim terlepas dari apapun system penilaian digunakan. Misalnya hasil World Database of Happines, yang disusun oleh seorang sosiolog Belanda yang didasarkan atas jawaban survey oleh tim dari Gallup, menempatkan Costa Rica di titik puncak dari 148 negara.

 

Itu dikarenakan orang Costa Rica rata-rata memberi nilai 8.5 – dari skala 0 sampai 10 untuk nilai kebahagiaan mereka sendiri. Denmark di posisi berikutnya, dengan nilai 8.3. Indonesia di peringkat 63-66 dengan nilai 6.1, di bawah peringkat Malaysia dan Thailand yang duduk di peringkat 44-49 dengan nilai 6.6, Singapore sedikit diatasnya pada peringkat 40-43 dengan nilai 6.7. Peringkat paling rendah dari 148 negara ditempati oleh Togo dan Tanzania dengan nilai 2.6

 

Para peneliti juga mengukur kebahagiaan dengan menghitung “tahun-tahun hidup bahagia.” Angka ini didapatkan dari nilai rata-rata kebahagian yang dilaporkan sendiri oleh orang yang disurvei, seperti yang telah disebut di atas, digabungkan dengan panjangnya usia. Dengan menggunakan system ini, sekali lagi Costa Rica berada di puncak daftar.

 

Pendekatan ketiga adalah “indeks planet bahagia”, yang dibuat oleh New Economics Foundation. Ini menggabungkan kebahagiaan dan panjangnya usia tetapi disesuaikan dengan dampak lingkungan – misalnya karbon yang disemburkan oleh Negara-negara itu.

 

Di sini, sekali lagi, Costa Rica menang dalam mencapai kebahagiaan dan panjuang usia di lingkungan yang lestari. Republik Dominika berada di tempat kedua, Indonesia di tempat ke-16, dan Zimbawe di urutan terakhir dari 143 negara yang disurvei oleh New Economics Foundation.

 

Mungkin kebahagiaan orang Costa Rica ada hubungannya dengan peluang untuk menjelajahi pantai-pantai yang indah di kedua sisi Negara itu atau berjalan-jalan di hutan sambil mengagumi sloth. Costa Rica sudah melakukan pekerjaan luar biasa dalam melestarikan alam. Tentu saja lebih mudah untuk bahagia ketika dikelilingi sinar matahari dan pepohonan hijau daripada mengigil kedinginan dalam belantara beton.

 

Yang membuat Costa Rica berbeda adalah keputusannya yang hebat pada tahun 1949 untuk menghapus angkatan bersenjatanya dan mengalihkan anggaran mereka untuk pendidikan. Peningkatan pendidikan menciptakan masyarakat yang stabil, kurang rentan terhadap konflik yang sering bergolak di tempat-tempat lain di Amerika Tengah. Pendidikan juga mendorong ekonomi, memampukan Negara itu untuk menjadi eksportir chip computer, dan meningkatkan keterampilan bahasa Inggris untuk menarik turis.

 

Di Costa Eica naiknya tingkat pendidikan juga mendorong kesetaraan gender yng sangat mengesankan, sehingga menduduki peringkat yang lebih tinggi daripada Amerika Serikat di dalam indeks perbedaan gender dari World Economic Forum. Ini memungkinkan Costa Rica untuk menggunakan populasi wanitanya dengan lebih produktif dibandingkan kebanyakan negara lain di regionnya., Selain itu, pelayanan kesehatan, sekarang ini, panjang usia penduduknya hampi sama dengan panjang usia di Amerika Serikat.

 

Kenaikan tingkat pendidikan juga menjuruskan negra itu untuk memelihara lingkukannya yang subur sebagai asset ekonomi. Costa Rica adalah pionir ekologi, mereka memberlakukan pajak karbon di tahun 1997. Environmental Performance Index, suatu kerja sama universits Yale dn Columbia, menempatkan Costa Rica pada nomor 5 di dunia, yang terbaik di luar Eropa.

Penekanan pada lingkungan ini tidak menggerogoti ekonomi Costa Rica tetapi justru mendukungnya. Malah sebenarnya, Costa Rica adalah salah satu dari sedikit negara yang menerima migrasi dari Amerika Serikat: warga AS pindah ke Costa Rica untuk menikmati masa pension dengan biaya ringan. Diperkirakan, dalam 25 tahun mendatang kita akan meihat sejumlah besar komunitas pensiunan berbahasa Inggris di sepanjang pantai Costa Rica.

 

Walaupun perbadigan kebahagiaan antar-negara masih controversial dn tidak pasti. Tetapi yang lebih jelas, keputusan Costa Rica untuk menanam modal pada pendidikan daripada senjata telah berbuah, melimpah.

 

Happy Blogging – Sprucefir

Parade Lentera Kanto

Festival Kanto Menyinari Langit Malam Kota Akita

Prefektur Akita terletak di wilayah Tohoku utara Honsu, tanah utama Jepang. Salah satu sorotan yang menarik dalam kalender wilayah ini adalah Festival Kanto, sebuah festival yang sudah berusia 250 tahun yang mana dilakukan parade di jalan dengan menggunakan ribuan lentera yang tersusun rapi pada sebuah rangka bambu raksasa. Pemandangan dari 200 rangka lentera berbaris di jalanan membuat Festival Kanto menjadi salah satu festival yang terkenal di wilayah ini. Setiap tahun event ini selalu menarik bagi sekitar 10.000 pengunjung dari seluruh Jepang, bahkan beberapa diantaranya dari luar negeri! ;)

Para Penonton Terpukau Dengan Kepiawaian Para Sashite

 

Sedikit Mengenal Tentang Akita

Perefektur Akita memakan waktu sekitar 4 jam perjalanan dari Tokyo dengan menggunakan kereta Shinkansen. Prefektur ini dikenal oleh beberapa Negara karena menghasilkan nasi yang paling enak. Semenanjung barat Akita terdapat Laut Jepang, yang mengandung banyak sumber daya maritime, sementara di utara Akita terletak keindahan alami dari Shirakami-Sanchi, suatu tempat yang termasuk dalam UNESCO World Herritage. Sementara wilayah bermandikan cahaya matahari secara melimpah ketika musim panas, dan pada saat musim dingin terselimuti salju, membuatnya menjadi salah satu daerah popular untuk olahraga ski.

Kota Akita, dimana Festival Kanto diadakan, merupakan kota provinsi dengan penduduk sekitar 320.000 orang dan berperan sebagai ibukota Prefektur Akita. Pada bagian pusat kota dimana Stasiun Akita terletak, terdapat reruntuhan dari istana yang dulunya ditinggali oleh Satake Yoshinobu, penguasa yang mengatur wilayah ini pada abad 17. Reruntuhan tersebut menceritakan sejarah panjang kemakmuran kota tersebut.

Balik Ke Bahasan Parade Lentera Kanto

Festival Kanto, yang mana diadakan setiap tahun pada awal Agustus, konon katanya pada pertengahan abad 18, dilakukan untuk mengusir kesurupan dan roh-roh iblis yang menghantui sepanjang pertengahan musim panas. Dan secara tidak sadar terhubungkan dengan ritual Budha untuk melindungi masyarakat dari kemalangan, membersihkan roh, dan menenangkan roh nenek moyang dan merangkul harapan orang-orang untuk datangnya panen besar. Pengaruh yang bercampur aduk membuatnya menghasilkan sebuah pertunjukan unik sebagai bentuk sekarang menjadi Festival Kanto.

Bagian utama dari festival adalah parade bingkai raksasa yang berbentuk layar (kanto) yang pada layarnya tergantung banyak lentera yang menyala, setiap layarnya menyerupai lembaran nasi raksasa. Sekitar 230 bingkai kecil dan besar, dengan total 10.000 lentera menyinari jalan di Akita.

Bingkai tersebut ada 4 ukuran, yang terbesar setinggi 12 meter. Bingkai-bingkai ini terdiri dari sebuah tiang utama yang diselangkan dengan 9 cabang horizontal, dan sekitar 46 lentera bisa dikaitkan. Lentera pun beberapa ada yang tingginya sampai 64 cm, didekorasi dengan nama kota atau lambing kota. Sebuah bingkai lentera yang terisi penuh beratnya bisa mencapai 50kg.

Pada saat festival berlangsung, suasana diwarnai dengan irama dari drum dan pluit, dan saat bingkai raksasa dinaikan menjulang ke atas. Pria-pria yang dikenal sebagai sashite secara terlatih menyeimbangkan bingkai ketika dinaikan, dan mengawasi bambu, agar tidak tergoyahkan oleh hembusan angin. Kerumunan merasa tegang dan was-was ketika para sashite berakrobat mengalihkan bingkai diantara dahi, bahu, telapak tangan, ataupun punggung mereka. Bahkan beberapa sashite sampai lebih berani lagi memegang payung atau kipas dengan kedua tangan mereka sambil membawa bingkai dengan punggungnya, setiap sahshite kerap sekali melakukan gerakan yang menantang dan beresiko meskipun di tengah-tengah kerumunan penonton agar tercipta sebuah pertunjukan yang menegangkan. Bahkan ketika bingkai tersebut terancam terjatuh, justru kerumunan bersorak karena ini merupakan pemandangan dan pertunjukan yang spektakuler. Berputar setiap beberapa menit, kelompok sashite mengoyang-goyang kan “lebaran nasi” raksasa tersebut seakan-akan membuat langit malam Akita diterangi dengan cahaya jingga yang indah, membawa para penonton ke dunia fantasi :)

Festival Kanto, sebuah event menegangkan yang dinamis ini terkenal di Jepang, dan beberapa tahun terakhir telah menjadi salah satu pertunjukan yang biasa diadakan juga di perfektur lain. Sebagai perwakilan dari kesenian tradisional Jepang, pemerintah Jepang juga mengadakan acara serupa di luar negeri seperti di USA, Inggris Raya, Korea Selatan, China, Perancis, Jerman, dan beberapa Negara lainnya :D

Timotius Jaya @  Sprucefir Netsphere

Si Manis Di Wisata Air Asin

77922_kawasan_ancol_pada_tahun_1948_300_225Mungkin sebagian warga Jakarta mengenal sebutan Si Manis Jembatan Ancol. Satu mistis yang menjadi urban legend. Dari sini juga, salah satu sisi  Ancol dikenal.
Namun sejatinya, Ancol dalam sejarahnya tidak hanya dikenal dengan tokoh yang sempat difilmkan ini. Ketika menyebut nama Ancol, akan juga teringat dengan sebuah tempat rekreasi yang terintegrasi dalam kawasan Taman Impian Jaya Ancol.
Mahfum, saat ini Ancol memang lebih identik dan dikenal warga Jakarta sebagai kawasan wisata saja. Karena di kawasan ini terdapat bermacam taman wisata dan rekreasi permainan, mulai dari Dunia Fantasi, Sea World, Wahana Atlantis dan fasilitas lainnya.
Padahal beragam kisah tersisa dari perjalanan panjang kawasan yang terletak di pesisir pantai utara kota Jakarta ini.
Nama Ancol sendiri berarti tanah rendah berpaya-paya atau payau. Karena dulu bila laut sedang pasang,  air payau kali Ancol berbalik ke darat menggenangi tanah sekitarnya sehingga terasa asin.
“Karena faktor itulah orang Belanda pada zaman VOC menyebut kawasan tersebut sebagai Zouteland atau ‘tanah asin’” cerita Sekretaris Pusat Studi Betawi, Liliek Sofyan Ahmad.
Kawasan Ancol sendiri terkenal sebagai lokasi rekreasi warga Jakarta sejak abad ke-17. Karena lokasinya yang terletak di pesisir pantai dengan hamparan pulau-pulau kecil yang menghias membuat Pantai Ancol memiliki daya tarik tersendiri.
Oleh karena itu kawasan ini sering dimanfaatkan sebagai lokasi peristirahatan oleh warga Batavia dengan membangun villa peristirahatan.
Suasana Ancol yang pada waktu itu bernama Slingerland itu pun pernah dilukiskan oleh seorang perwira artileri VOC, Johannes Rach (1720-1783) pada tahun 1772 menggambarkan banyaknya vila-vila peristirahatan berdiri di sekitar pantai ini.  Di antaranya milik Gubernur Jendral Hindia Belanda Andriaan Valckneir (1737-1741).
Menurut Alwi Shahab, sejak dulu Ancol memang dikenal sebagai tempat rekreasi. “Sejak tiga abad lalu, Ancol sudah menjadi tempat rekreasi khususnya bagi bagi warga Belanda untuk berakhir minggu,” katanya.
“Noni-noni Belanda rekreasi dengan dipayungi para budaknya menikmati Pantai Ancol” tulis Alwi dalam sebuah artikel.
Namun, seiring eksodusnya warga Batavia ke wilayah Kota Baru Weltevreden pada akhir abad 18, Ancol mulai ditinggalkan. Pada masa itu pula, terkadang air Sungai Ciliwung meluap hingga mengubah kawasan tersebut menjadi kumuh dan berlumpur.
Selain itu, mewabahnya berbagai penyakit di kawasan berawa ini semakin membuat kawasan ini ditinggalkan warga Batavia.
Menurut Liliek Sofyan Ahmad, kawasan Ancol mengalami perjalanan terkelam pada masa pendudukan Jepang di sekitar tahun 1940-an. Pada masa itu rawa sekitar Ancol sempat menjadi tempat pembuangan bagi mayat orang Belanda yang melawan pemerintah pendudukan Jepang.
Mayat mereka dibuang dan dikuburkan tanpa nama di kawasan rawa-rawa. “Tapi sekarang mayat-mayat tersebut sudah dimakamkan kembali sebagaimana mestinya di lokasi pemakaman Ereveld Ancol” ujar
Lilik menuturkan, komplek pemakaman tersebut saat ini berada di kawasan sebelah timur Taman Impian Jaya Ancol. Di kawasan tersebut tampak nisan berbentuk salib putih berjajar rapih.
Akibatnya, kawasan yang semula pusat rekreasi berubah menjadi sepi dan menyeramkan. “Dulu waktu saya kecil, Ancol sempat dijuluki tempat jin buang anak” ujar seorang warga yang pernah menetap di kawasan Tanjung Priok pada tahun 1950-an ini, Siti Astuti, 55 tahun.
Karena kawasan yang sudah dipenuhi lumpur dan rawa ini selalu dalam keadaan sepi, hanya gerombolan monyet liar yang memenuhi kawasan tersebut.
Selain itu, kisah misteri yang melegenda di kalangan warga sekitar membuat warga enggan melintas di kawasan tersebut pada malam hari “Kuntilanak sering mengganggu pengendara yang melintas di jembatan Ancol” ujar Siti Astuti.
Konon katanya kuntilanak tersebut merupakan perwujudan dari seorang gadis pribumi, Ariah yang tewas saat hendak diperkosa oleh seorang pemuda berandalan. Cerita ini pun berkembang sehingga sempat difilmkan yang bertajuk Si Manis Jembatan Ancol.

61423_senja_di_segarra_pantai_carnival_ancol_300_225

Keadaan Ancol yang kian terpuruk ini tidak dibiarkan saat Soekarno mulai memerintah. Untuk mengembalikan kejayaan Ancol masa lalu, maka Presiden Soekarno mempunyai ide untuk mengembalikan kawasan Ancol sebagai kawasan wisata bagi warga jakarta.
Mulailah pada tahun 1966 kawasan Ancol dibenahi. Diawali dengan pembangunan kawasan Pantai Bina Ria Ancol yang terkenal dengan Theater Mobil di era 1970-an.
“Walau hanya sebentar, pusat judi dengan nama Copacabana pun sempat ada di kawasan ini,” ujar Liliek.
Bangunan pun terus berlanjut hingga saat ini. Satu persatu tempat rekreasi didirikan di kawasan Taman Impian Jaya Ancol ini. Dimulai dengan dibangunnya Dunia Fantasi dan arena rekreasi lainnya seperti Gelanggang Samudera dan Seaworld membuat Ancol bertransformasi dari sekedar tempat peristirahatan Noni Belanda hingga menjadi pusat rekreasi permainan terbesar dan terlengkap di Indonesia.
Saat ini kawasan seluas 552 hektar ini termasuk ke dalam wilayah kecamatan Pademangan, Kotamadya Jakarta Utara. Di sebelah barat, Ancol bersisian dengan Kota Tua. Sementara sisi sebelah timur berbatasan dengan kompleks Pelabuhan Tanjung Priok.

Maryadie

Perkampungan Budak di Batavia

78251_kampung_bandan_tahun_1955_300_225Mungkin tidak banyak orang mengenal Kampung Bandan. Mereka yang mengenal pun agaknya menginisiasikan kampung yang berada di wilayah utara Jakarta sebagai tempat kumuh.
Padahal di kampung ini ada cerita tersisa ketika Jakarta masih bernama Batavia.
Berdasarkan catatan buku sejarah, dijelaskan asal muasal mengapa kawasan ini disebut Kampung Bandan. Pertama, kampung yang berlokasi di dekat Pelabuhan Sunda Kelapa ini diperkirakan berasal dari kata Banda, sebuah pulau di Maluku.
Ditengarai ada sekumpulan masyarakat Banda, di zaman Batavia yang menghuni kawasan ini. Penyebutan ini disebut lazim mengingat kasus lain punya kemiripan seperti penyebutan nama kampung China sebagai pecinan, atau nama tempat memungut pajak atau cukai (bea) disebut Pabean, dan Pekojan sebagai perkampungan orang Koja (Arab).
Banda juga bisa berasal dari kata Banda dalam bahasa Jawa berarti ikatan dibanda (diikat). Ini dihubungkan dengan peristiwa yang sering dilihat oleh warga pada zaman pendudukan Jepang.
Ketika itu Jepang sering membawa pemberontakan dengan tangan terikat melewati kampung ini untuk dieksekusi di Ancol.
Kemungkinan ketiga, yakni bahwa Banda merupakan pengucapan dari kata Pandan. Sebab di masa lalu kampung ini dipenuhi pohon pandan sehingga warga menyebut Kampung Pandan kemudian menjadi Kampung Bandan.
Apapun asal muasal nama tempat ini, yang pasti sejarah menyebutkan kampung ini merupakan penampungan budak dari Pulau Banda, Maluku, ketika JP Coen menaklukan pulau itu pada 1621.
Pembantain besar-besaran dilakukan Coen. Mereka yang selamat diboyong ke Batavia, dan budak-budak tadi memberontak melawan VOC di Marunda, Jakarta Utara.
Setelah periode perbudakan usai, para tawanan dipekerjakan di Pasar Ikan. Mengingat, kawasan kampung dekat dengan Pelabuhan Sunda Kelapa, yang otomatis dekat dengan Pasar Ikan.
Mereka tetap mendiami kampung tersebut, tumbuh berkembang dan beranak pinak. Di kawasan itu akhirnya dibangun pula jalur kereta api, yaitu ketika Pelabuhan Tanjungpriok (baru) dibangun.
Jalur kereta api itu untuk menghubungkan Pelabuhan Sunda Kelapa dan Pelabuhan Tanjung Priok.
Selain terdapat stasiun, di Kampung Bandan juga masih berdiri sebuah masjid tua yang dikenal dengan nama masjid Kampung Bandan. Dengan kondisi yang kumuh, tak sehat, kotor, dan berantakan, kawasan ini tetap layak menjadi tujuan wisata karena menyisakan stasiun dan masjid dari abad ke-19.
Kepala UPT Kota Tua, Chandrian mengatakan Kampung Bandan merupakan cagar budaya yang masuk dalam peta kawasan kota sesuai dengan peraturan Gubernur No 34 tahun 2006 adalah batas bagian timur yang masuk dalam program revitalisasi Kota Tua.
Dengan kondisi yang kumuh di Kampung Bandan seakan membawa kita kembali melihat perbudakan dan kaum marginal di era postmodern Batavia

idea come from Maryadie

Fast Food Dengan Lika-Likunya

Pizza and Noodles That Can Be Held in One Hand

Sp: This article was written in bilingual; English and Indonesian. English version written in italic format while Indonesian written in normal format.

lifd070329Innovative varieties of fast food are making some of young people’s favorite dishes more convenient and tasty. They include noodles that can be held and eaten with one hand and pizzas that can be consumed on the move. In each case, makers have taken a well-loved dish and turned it into a form that no-one had thought of before. These novel products have caught the imagination of consumers and are set to become common sights around Japan.

Variasi makanan cepat saji yang innovatif membuat beberapa makanan favorit anak muda menjadi lebih praktis dan lezat. Mereka menyertakan mie yang dapat dipegang dan dimakan dengan satu tangan dan pizza yang dapat dikonsumsi sambil bepergian. Pada masing-masing kasus, para pembuat telah mengmabil makanan yang disukai mereka dan merubahnya menjadi bentuk yang belum pernah dipikirkan sebelumnya. Produk unik ini telah memacu imajinasi dari consumer dan kini menjadi salah satu pemandangan yang umum di sekitar Jepang. (maksud di sini adalah fast food yang dimakan ketika kita bergerak, tidak seperti KFC yang misalnya menuntut kita untuk diam di satu tempat ketika makan walaupun judulnya sama-sama fast food. Maklum orang Jepang etos kerjanya tinggi jadi menuntut displin waktu bahkan sampai makan diusahakan sepraktis mungkin untuk menghemat waktu -_-)

Is It a Burger? Is It Noodles?
In a corner of the car park of the Costa Yukuhashi shopping complex in Yukuhashi, Fukuoka Prefecture, sits a bright red van. Women returning home from the shops stop off at the van to buy a unique type of burger called a Kan-nana Noodle Burger. This is in fact a quirky kind of ramen noodles thought up by Sadaishi Koji, who runs a noodle bar on the Kan-nana road (the number-seven circular) in Tokyo while also managing a construction firm.

Di ujung parkiran dari komplek belanja Costa Yakuhashi, prefektur Fukuoka, terpakir sebuah van merah yang cerah. Para wanita yang pulang dari berbelanja mampir ke van untuk membeli burger yang unik bernama Kan-nana Burger Mie. Pada kenyataannya sejenis mie ramen yang unik ini terpikirkan oleh Sadaishi Koji, yang mempunyai usaha warung mie di jalan Kan-nana di Tokyo sementara juga memanage sebuah kantor konstruksi.

lifc070329The Kan-nana Noodle Burger looks like a hamburger, but instead of a beef patty sandwiched in a bread roll, it consists of roasted pork – a standard ramen topping – inside a mass of noodles that have been fried so that they go firm and stick together. A burger with a filling of seasoned chicken balls is also available, and both types cost ¥350 (about $3 at ¥115 to the dollar). The sauce covering the pork and egg that fill the burgers tastes just like ramen broth, and the chewy texture of the dish has also proved popular. Sadaishi is determined to spread these burgers nationwide as a signature dish of Yukuhashi.

Kan-nana Burger Mie selintas terlihat seperti hamburger, tapi bukan berisi daging ham atau patty yang diapit oleh roti bundar melainkan berisi daging babi panggang – sebuah topping ramen pada umumnya – di dalam sebuah mie dalam jumlah besar yang telah digoreng sehingga dapat menjadi padat dan melekat keseluruhan. Sebuah burger berisi baso ayam berbumbu juga tersedia, dan dua-duanya seharga ¥350 (sekitar $3 pada saat ¥115 per dollar atau Rp28.500 pada saat Rp.9500 per dollar). Saus yang menutupi daging babi dan telur yang mengisi burger terasa seperti kaldu ramen, dan tekstur yang kenyal dari makanan tebukti popular. Sadaishi berambisi menyebarkan burger ini se-nasional sebagai tanda makanan khas dari Yukuhashi. (sebenarnnya cukup simple dan tidak extravagant namun nilai kepraktisan selagi cita rasa dipertahankan yang dicari orang bukan? ^_^)

Pizza in a Cone
Another kind of noodle sandwich can be found at Hasamaru, a stall in the famous Amerika-mura district of Osaka. Called Sobasen, this dish consists of fried noodles sandwiched between two large prawn crackers. Sobasen was developed by Uenishi Mako, whose father, Takashi, runs Hasamaru. The prawn crackers are filled with thick fried noodles, egg, mayonnaise, and a special sauce. Sobasen cost ¥250 each (about $2.10) and can be eaten on the move. On weekends Hasamaru gets a lot of custom from tourists, while on weekdays local regulars make up most of the Sobasen customers.

Sandwich mie jenis lainnya dapat ditemukan di Hasamaru, sebuah kios di distrik Osaka yang terkenal Amerika-mura. Makanan ini bernama Sobasen, jenis makanan yang mengandung mie goreng yang diapit dua crackers lunak yang besar. Sobasen dikembangkan oleh Uenishi Mako, yang mana ayahnya, Takashi, menjalakan Hasamaru. Cracker ini berisi dengan mie goreng yang tebal, telur, mayonnaise, dan saus special. Sobasen berharga  ¥250 per porsi (sekitar $2.10 atau Rp.19950) dan dapat dimakan sambil berpergian. Pada akhir minggu Hasamaru mendapat banyak pelanggan dari turis, sedangkan pada hari biasa banyak warga local menjadi sebagian besar pelanggan Sobasen.

Another unusual fast food can be found on the basement food floor of the Printemps Ginza department store in Ginza, Tokyo. Kono Pizza is a pizza base like an ice-cream cone and filled with cheese, tomato sauce, and other toppings. Unlike an ordinary pizza, it can be eaten on the move with one hand. These pizzas are especially popular with young women, and there are often lines of people waiting to get a taste. Over 500 cone pizzas a day are served on weekends.

Makanan cepat saji yang tidak biasa lainnya dapat ditemukan di lantai basement tempat food court dari Printemps Ginza department store di prefektur Ginza, Tokyo. Kono Pizza adalah sebuah pizza yang rotinya dibentuk seperti ice-cream cone dan berisi keju, saus tomat, dan topping lainnya. Tidak seperti pizza biasa, makanan ini dapat dimakan ketika berjalan dengan satu tangan. Pizza ini biasanya popular diantara para wanita muda, dan biasanya terdapat antrian panjang dari orang-orang yang ingin mencicipinya. Lebih dari 500 cone pizza disajikan pada akhir minggu. (Lho, mengapa pizza demikian dikatakan tidak bisa dimakan sambil berjalan? Toh, pizza termasuk salah satu jenis makanan yang praktis kan? Well, emang benar sih cukup praktis tapi coba anda perhatikan saja pernah liat orang makan pizza sambil bawa kotak pizza hut di jalan? o_O)

Well, cukup praktis dan inovasi satu ini bila diadaptasi di Indonesia. Memang sih inovasi kuliner kita juga berkembang jauh juga ga kalah dengan Negara-negara lain dapat dilihat dengan menjamurnya café-café, restaurant, dan rumah makan dengan konsep menarik. Namun untuk inovasi makanan cepat saji yang praktis tapi enak masih sangat kurang, kita bisa lihat konsep makanan yang ada adalah “all eat in place” bukan “all eat while moving”. Mungkin bila terwujud suatu makanan saji dengan menggunakan khas Indonesia seperti apa resepnya ya? Gado-gado dalam lontongkah? Nasi kepal isi rending? Kita lihat saja akan adakah warga Indonesia yang menemukan ide brilian semacam ini dan mempopulerkannya? ;)

Edited by Japan Echo Inc. based on domestic Japanese news sources. Edited and translated in Indonesian by Sprucefir Netsphere. Articles presented here are offered for reference purposes and do not necessarily represent the policy or views of the Japanese Government.

Inovasi Sayur-sayuran

Cara baru untuk menikmati diet sehat

Sayur-sayuran selalu menjadi salah satu pilihan ya

Whole tomato salad. (C)Celeb de Tomato

Whole tomato salad. (C)Celeb de Tomato

ng paling terkenal bagi orang-orang yang ingin memperbaiki kebiasaan makan mereka, dan sekarang penyajian sayur-sayuran di dalam bisnis kuliner mulai mendapatkan popularitas. Dari restoran yang menunya mengkhusukan diri pada suatu jenis sayuran sampai ke penganan yang menawarkan kue sayuran dan manisan lainnya, pemanfaatan sayur-sayuran yang innovatif menjadikan kebiasaan makan sayur-sayuran mulai memasuki gaya hidup masyarakat.

Specially selected grilled pork with tomato juice. (C)Celeb de Tomato

Specially selected grilled pork with tomato juice. (C)Celeb de Tomato

Kebiasaan memakan tomat nampaknya mulai mendapatkan kepopulerannya khususnya di Negara Jeapang. Di Jepang, tomat seringkali dimakan mentah-mentah pada salad, dan Variasi yang paling popular adalah varian yang memiliki isi yang padat dan rasa yang lebih kea rah manis daripada asam. Variasi yang lebih luas pada tomat sekarang sudah tersedia di toko-toko dewasa ini, seperti buah tomat yang memiliki kandungan gula yang tingi, dan para juru masak tela sibuk menciptakan cara unik menyajikan hidangan kepada para pecinta kuliner agar dapat menikmati masing-masing variasi rasa dan tekstur tomat itu. (Patut ditiru dan dikreasikan oleh kita sebagai bangsa agraris budaya makan sayur seperti ini -_o)

Green soybean cheesecake. (C)pâtisserie Potager

Green soybean cheesecake. (C)pâtisserie Potager

Celeb de Tomato adalah restoran di Tokyo yang menjadi populer berkat komitmennya untuk menyajikan hidangan tomat yang belum pernah dicicipi sebelumnya. Di sini para pengunjung dapat mencicipi berbagai jenis tomat, termasuk tomat hijau kecil, tomat putih, dan tomat hitam yang rasa manisnya terdapat sedikit rasa pahit. Dengan kata lain hidangan restoran ini menyajikan atau menyertakan tomat baik dalam menu pembuka, utama, bahkan menu penutup. Menu-menu terdapat hidangan salad tomat, hidangan laut dan daging pun menyertakan saus tomat segar, serta roti tomat. Salah satu yang menjadi menu andalan dalam hidangan penutup adalah tomat mentah brulee dan kue gulung dengan selai tomat bikinan sendiri.

Green asparagus and vanilla mousse. (C)pâtisserie Potager

Green asparagus and vanilla mousse. (C)pâtisserie Potager

Hidangan penutup dengan kalori yang sehat selalu menjadi pertimbangan utama ketika memakan kue dan manisan, dan ini adalah salah satu area lainnya dimana sayuran digunakan untu menciptakan hidangan sehat yang lezat. Patisserie Potager adalah toko kue berbasis sayuran yang dibuka di Tokyo, 2006. Toko ini mendukung para petani dan menyediakan pendidikan nutrisi melalui produknya, yang mana berdasarkan cara untuk untuk mencampurkan sayur-sayuran kedalam hidangan penutup, menjadi suatu experiment yang menghasilkan kreasi dengan berbagai rasa yang tidak terduga. Salah satu kekhasannya adalah kue bolu hijau yang dibuat dari komatsuna murni (komatuna : mayonnaise bayam Jepang) yang diapit dengan tomat dan krim segar, menjadi populer semenjak toko pertama kali dibuka. Kombinasi mengejutkan lainnya adalah kue keju yang dicampur dengan kacang kedelai hijau dan dua lapis asparagus hijau, dan juga saus vanilla yang terbungkus kue bolu the panggang.

Jus yang terbuat dari buah dan sayurang segar menjadi cara populer untuk para konsumen yang sadar akan kesehatan dalam menikmati konsumsi harian sayur-sayuran mereka. Kios jus segar menjamur dan menjadi pemandangan yang biasa di kota-kota besar. Salah satu jus yang untuk adalah jus bayam yang dicampur dengan melon dan jambu guava menjadi salah satu pilihan jus penuh nutrisi di kala sibuk-sibuknya dan kebanyakan orang mengkonsumsi suplemen dalam dietnya.

Daya tarik dari kacang kedelai dan tauge yang sehat juga mendapatkan sorotan oleh karena manfaat kesehatannya. Tauge telah lama digunakan dalam berbagai masakan Jepang – misalnya, digoreng dan sup miso. Sebagai tambahan sebagai makanan yang banyak mengandung potassium, vitamin c, serat, dan nutrisi lainnya; makanan tersebut sangat terjangkau harganya (*secara tauge getu lho… -_-;) dan bertambah popular akhir-akhir ini. Banyak fakta yang menunjukan bahwa buku panduan masak yang menyertakan berbagai resep dengan menggunakan tauge membuktikan kesukesanny, buku paduan tersebut terjual 100,000 kopi dalam setahun. Restaurant juga menambahkan tauge dalam menu mereka seperti sprout quiche dan sprout spring rolls (ya, ampun di Indonesia mah tauge Cuma dijual 500 perak ama tukang gorengan :p) That’s all folks!

Source: web-japan.org

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.