Mie Ramen Jepang ~ Makanan Populer Masyarakat Kota Tokyo

Warung ramen penuh sekan dengan pelanggan pada jam makan siang

Okay, siapa diantara anda yang suka makan mie? Tidak perlu dijawab pasti sebagian besar suka makan mie, dan mie juga telah menjadi makanan populer secara internasional. Kali ini saya akan membahas mengenai mie ramen… yup, mie yang satu ini cukup populer di negeri matahari sehingga menarik minat saya untuk membahasnya (hehehe, padahal saya membahas masalah ini sehabis makan mie ramen tersebut; hmm, mungkin ini yang namanya kesan sehabis mencoba ya?). Dan satu hal lagi sebelum saya menerbitkan artikel ini sebenarnya saya sempat berdebat karena dia ingin meneguhkan standar bahwa artikel yang dipublikasikan pada weblog ini sebaikanya berbahasa Inggris karena memang target pembaca terbesar memang bukan pembaca yang berbahasa Indonesia ~ ehm, Tama bilang bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang banyak dipakai orang (uhm, maklum ide artikel dan sumber juga dia yang cari sih) akan tetapi setelah dirundingkan akhirnya kita sepakat saya diperbolehkan mepublikasikan artikel yang saya tangani kecuali artikel tersebut merupakan kategori visual novel, anime, 4koma, dan tutorial menggambar. Umm…~ sudah cukup celothan intermezzonya dan langsung saja kita masuk ke dalam topic utama. Santailah dalam membaca jika perlu pergi minum dan ke toilet dulu supaya santai membacanya, hehehe…

P.S. saya juga sertakan komentar staff weblog yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia

  Baca tulisan ini lebih lanjut

The Japanese Archery – Kyudo

Hello, everyone it has been awhile since my last post about “bukatsu” for decultures section. Recently, I got suggestion form my companion to write an article about kyudo. Thus, I decide to do some research about it and found some info abut it. Well, Kumiko was the one who did most of work in here. Moreover, about the pictures, were taken by Nikkan, which as seen in Danny Cho’s site. The photo filming for culture Japan at Yashiro High School t cover their Kyudo (Japanese Archery) and we included terminology and basic explanation about Kyudo.

When I look and hear about Japan High school student activity I found Japanese students are quite admirably especially is the way the spend time after school hours. Many of them practice bukatsu (extra curriculum activities) and some of them head off to Juku (cram school) and go to arubaito (part time job). Now, please have drink and if you have any urge in the toilet do it now. Moreover find position that you find it comfortable because it going to take awhile to read this post. Ready? Here we go!

The expression and actions of the students change when its their turn to shoot. They stride and position themselves on the shooting spot while continuing to look at their target. Their movements are slow and graceful. They usually carry two arrows as you can see this lady doing. The ladies wear a black Muneate [胸当て] which protects their oppai from being struck by the bowstring.

 

What’s Kyudo?

Kyudo or Kyūdō (弓道), literally meaning “way of the bow”, is the Japanese art of archery. It is a modern Japanese martial art (gendai budō) and practitioners are known as kyudoka (弓道家).

It is estimated that there are approximately half a million practitioners of kyudo today. In 2005 the International Kyudo Federation had 132,760 graded members, but in addition to this kyudo is taught at Japanese schools and some traditions refrain from federation membership.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Ichige – Games Yang Membuat Pengguna Seluler Bergerak

popb091029

Informasi mengenai penganan kue beras yang menyerupai meteorit dalam sebuah aplikasi game selular, "ichige"

Peningkatan jumlah pengguna telepon seluler menjadi pemain avid ichige ( “location games”), suatu jenis permainan online yang memanfaatkan data lokasi yang disediakan melalui ponsel mereka ‘fungsi GPS. Dalam permainan, pemain menerima mata uang virtual menurut mana dan seberapa jauh mereka bepergian, mereka kemudian dapat menggunakan mata uang untuk “membeli” virtual item dan suvenir. Permainan ini sangat populer di kalangan pekerja perusahaan di usia dua puluhan dan tiga puluhan sebagai cara untuk menikmati perjalanan bisnis atau perjalanan sehari-hari untuk bekerja.

Permainan ponsel Colopula (kependekan dari Colony Life Plus), dioperasikan oleh COLOPL Inc, adalah perintis genre ichige. Situs permainan populer ini memiliki sekitar 310.000 pengguna, seperti 31 Juli 2009. Dalam permainan ini, pengguna menerima sebuah “koloni” (kota) untuk berkembang. Koloni tumbuh sebagai pemain terakumulasi berbagai item, termasuk tanah, bangunan, air, dan makanan. Item, yang angka dalam ribuan, dibeli dengan ‘pula’, mata uang dari permainan. Pemain yang mendaftar informasi lokasi mereka melalui fungsi GPS di ponsel mereka dapat menerima pula untuk jarak antara lokasi mereka saat ini dan sebelumnya lokasi terdaftar. Pemain akan meningkatkan ‘pula’ mereka seiring mereka bepergian jauh dan semakin sering mereka mendaftarkan lokasi.
Ada juga daerah khusus “souvenir” yang dapat dibeli hanya jika pemain secara fisik di dalam atau dekat tempat tertentu, sebuah fitur yang memberikan insentif tambahan pemain untuk bepergian ke lokasi ini untuk mengumpulkan barang-barang berharga ini. Misalnya, Anda hanya dapat membeli virtual Yubari melon, terkenal karena jeruk segar, jika Anda pergi ke kota Yubari di Hokkaido, atau beberapa “Koshien tanah,” yang memegang nilai sentimental untuk para penggemar bisbol sekolah tinggi, jika Anda dekat dengan Stadion Koshien, yang terletak di dekat kota Kobe. Pengguna juga dapat menikmati komunikasi dengan sesama pemain oleh bertukar item dan memberi hadiah.
Location Games lainnya adalah Kunitori Keitai Gassen (Pertempuran untuk Negara), yang dioperasikan oleh Mapion Co, pemain menjadi prajurit yang bertujuan untuk menyatukan 600 “negara” yang membentuk kepulauan Jepang. Pemain mengambil alih sebuah “negara” ketika mereka benar-benar menginjakkan kaki di sana dan masukan informasi lokasi menggunakan GPS. Ini seperti “stempel rally” raksasa (permainan dalam kehidupan nyata di mana pemain mendapatkan kartu mereka dicap karena mengunjungi lokasi tertentu) dimainkan di seluruh Jepang.
Pemain menumpuk  koban,’mata uang’ dalam permainan, dengan menjawab pertanyaan tentang sejarah Jepang. Koban dapat digunakan untuk membeli baju besi, kuda, dan item lainnya di toko-toko virtual. Ada juga dalam kehidupan nyata acara yang digelar untuk pemain game virtual ini. Beberapa pemain bertukar informasi tentang mereka “negara,” dan yang lain menikmati makan di luar dan tamasya di “negara” yang mereka telah mengambil alih. Jumlah pemain puncaknya mencapai 260.000 pada awal Agustus 2009. Perusahaan lain yang serupa telah menciptakan kota-bangunan dan perjalanan permainan, dan genre semakin meningkat popularitasnya.

Travel game ini menarik perhatian bisnis; perusahaan kereta api dan toko-toko terkenal di seluruh negeri telah merancang serangkaian kampanye promosi yang berhubungan dengan permainan.
COLOPL telah bermitra dengan bisnis setempat untuk membuat permainan khusus yang berhubungan dengan item, seperti suvenir dan Coloca kartu plastik, sehubungan dengan produk yang dijual di setiap toko. Pemain yang membeli produk tertentu di salah satu toko di orang menerima kartu dengan nomor seri pada yang dapat dimasukkan ke ponsel mereka untuk menerima item virtual. Salah satunya Ishidaya toko permen di Nikko, Prefektur Tochigi, mempersiapkan khusus sebuah Mochi (kue beras) penganan menyerupai sebuah meteorit yang dihadapi oleh para pemain dalam permainan, hasilnya, terenjual lebih dari 3.000 kotak dalam satu bulan.
Sementara itu Mapion, telah bekerja sama dengan East Japan Railway Company (JR East) untuk menciptakan kampanye promosi untuk mengunjungi tempat-tempat seperti lokasi dari samurai-bertema dan puri drama TV nasional, mendorong pemain untuk bepergian ke tempat tujuan mereka dengan kereta api.

My Opinion:
Game ini sangat memberikan dampak positif bagi para pemainnya selain membentuk komunitas antar pemain, permainan ini dapat dimanfaatkan pemerintah untuk memboosting perekonomian negara dengan cara mengkampanyekan produk dalam negeri dan wisata lokal, selain itu bagi pemain sendiri dapat mendorong mereka untuk tidak KUPER berdiam diri dirumah, agar mereka terdorong berpergian jalan-jalan keluar menambah wawasan baru, sayangnya permainan ini belum masuk ke Indonesia. Kapan ya kira-kira bakal masuk ke Indonesia?
Timotius Jaya

Fast Food Dengan Lika-Likunya

Pizza and Noodles That Can Be Held in One Hand

Sp: This article was written in bilingual; English and Indonesian. English version written in italic format while Indonesian written in normal format.

lifd070329Innovative varieties of fast food are making some of young people’s favorite dishes more convenient and tasty. They include noodles that can be held and eaten with one hand and pizzas that can be consumed on the move. In each case, makers have taken a well-loved dish and turned it into a form that no-one had thought of before. These novel products have caught the imagination of consumers and are set to become common sights around Japan.

Variasi makanan cepat saji yang innovatif membuat beberapa makanan favorit anak muda menjadi lebih praktis dan lezat. Mereka menyertakan mie yang dapat dipegang dan dimakan dengan satu tangan dan pizza yang dapat dikonsumsi sambil bepergian. Pada masing-masing kasus, para pembuat telah mengmabil makanan yang disukai mereka dan merubahnya menjadi bentuk yang belum pernah dipikirkan sebelumnya. Produk unik ini telah memacu imajinasi dari consumer dan kini menjadi salah satu pemandangan yang umum di sekitar Jepang. (maksud di sini adalah fast food yang dimakan ketika kita bergerak, tidak seperti KFC yang misalnya menuntut kita untuk diam di satu tempat ketika makan walaupun judulnya sama-sama fast food. Maklum orang Jepang etos kerjanya tinggi jadi menuntut displin waktu bahkan sampai makan diusahakan sepraktis mungkin untuk menghemat waktu -_-)

Is It a Burger? Is It Noodles?
In a corner of the car park of the Costa Yukuhashi shopping complex in Yukuhashi, Fukuoka Prefecture, sits a bright red van. Women returning home from the shops stop off at the van to buy a unique type of burger called a Kan-nana Noodle Burger. This is in fact a quirky kind of ramen noodles thought up by Sadaishi Koji, who runs a noodle bar on the Kan-nana road (the number-seven circular) in Tokyo while also managing a construction firm.

Di ujung parkiran dari komplek belanja Costa Yakuhashi, prefektur Fukuoka, terpakir sebuah van merah yang cerah. Para wanita yang pulang dari berbelanja mampir ke van untuk membeli burger yang unik bernama Kan-nana Burger Mie. Pada kenyataannya sejenis mie ramen yang unik ini terpikirkan oleh Sadaishi Koji, yang mempunyai usaha warung mie di jalan Kan-nana di Tokyo sementara juga memanage sebuah kantor konstruksi.

lifc070329The Kan-nana Noodle Burger looks like a hamburger, but instead of a beef patty sandwiched in a bread roll, it consists of roasted pork – a standard ramen topping – inside a mass of noodles that have been fried so that they go firm and stick together. A burger with a filling of seasoned chicken balls is also available, and both types cost ¥350 (about $3 at ¥115 to the dollar). The sauce covering the pork and egg that fill the burgers tastes just like ramen broth, and the chewy texture of the dish has also proved popular. Sadaishi is determined to spread these burgers nationwide as a signature dish of Yukuhashi.

Kan-nana Burger Mie selintas terlihat seperti hamburger, tapi bukan berisi daging ham atau patty yang diapit oleh roti bundar melainkan berisi daging babi panggang – sebuah topping ramen pada umumnya – di dalam sebuah mie dalam jumlah besar yang telah digoreng sehingga dapat menjadi padat dan melekat keseluruhan. Sebuah burger berisi baso ayam berbumbu juga tersedia, dan dua-duanya seharga ¥350 (sekitar $3 pada saat ¥115 per dollar atau Rp28.500 pada saat Rp.9500 per dollar). Saus yang menutupi daging babi dan telur yang mengisi burger terasa seperti kaldu ramen, dan tekstur yang kenyal dari makanan tebukti popular. Sadaishi berambisi menyebarkan burger ini se-nasional sebagai tanda makanan khas dari Yukuhashi. (sebenarnnya cukup simple dan tidak extravagant namun nilai kepraktisan selagi cita rasa dipertahankan yang dicari orang bukan? ^_^)

Pizza in a Cone
Another kind of noodle sandwich can be found at Hasamaru, a stall in the famous Amerika-mura district of Osaka. Called Sobasen, this dish consists of fried noodles sandwiched between two large prawn crackers. Sobasen was developed by Uenishi Mako, whose father, Takashi, runs Hasamaru. The prawn crackers are filled with thick fried noodles, egg, mayonnaise, and a special sauce. Sobasen cost ¥250 each (about $2.10) and can be eaten on the move. On weekends Hasamaru gets a lot of custom from tourists, while on weekdays local regulars make up most of the Sobasen customers.

Sandwich mie jenis lainnya dapat ditemukan di Hasamaru, sebuah kios di distrik Osaka yang terkenal Amerika-mura. Makanan ini bernama Sobasen, jenis makanan yang mengandung mie goreng yang diapit dua crackers lunak yang besar. Sobasen dikembangkan oleh Uenishi Mako, yang mana ayahnya, Takashi, menjalakan Hasamaru. Cracker ini berisi dengan mie goreng yang tebal, telur, mayonnaise, dan saus special. Sobasen berharga  ¥250 per porsi (sekitar $2.10 atau Rp.19950) dan dapat dimakan sambil berpergian. Pada akhir minggu Hasamaru mendapat banyak pelanggan dari turis, sedangkan pada hari biasa banyak warga local menjadi sebagian besar pelanggan Sobasen.

Another unusual fast food can be found on the basement food floor of the Printemps Ginza department store in Ginza, Tokyo. Kono Pizza is a pizza base like an ice-cream cone and filled with cheese, tomato sauce, and other toppings. Unlike an ordinary pizza, it can be eaten on the move with one hand. These pizzas are especially popular with young women, and there are often lines of people waiting to get a taste. Over 500 cone pizzas a day are served on weekends.

Makanan cepat saji yang tidak biasa lainnya dapat ditemukan di lantai basement tempat food court dari Printemps Ginza department store di prefektur Ginza, Tokyo. Kono Pizza adalah sebuah pizza yang rotinya dibentuk seperti ice-cream cone dan berisi keju, saus tomat, dan topping lainnya. Tidak seperti pizza biasa, makanan ini dapat dimakan ketika berjalan dengan satu tangan. Pizza ini biasanya popular diantara para wanita muda, dan biasanya terdapat antrian panjang dari orang-orang yang ingin mencicipinya. Lebih dari 500 cone pizza disajikan pada akhir minggu. (Lho, mengapa pizza demikian dikatakan tidak bisa dimakan sambil berjalan? Toh, pizza termasuk salah satu jenis makanan yang praktis kan? Well, emang benar sih cukup praktis tapi coba anda perhatikan saja pernah liat orang makan pizza sambil bawa kotak pizza hut di jalan? o_O)

Well, cukup praktis dan inovasi satu ini bila diadaptasi di Indonesia. Memang sih inovasi kuliner kita juga berkembang jauh juga ga kalah dengan Negara-negara lain dapat dilihat dengan menjamurnya café-café, restaurant, dan rumah makan dengan konsep menarik. Namun untuk inovasi makanan cepat saji yang praktis tapi enak masih sangat kurang, kita bisa lihat konsep makanan yang ada adalah “all eat in place” bukan “all eat while moving”. Mungkin bila terwujud suatu makanan saji dengan menggunakan khas Indonesia seperti apa resepnya ya? Gado-gado dalam lontongkah? Nasi kepal isi rending? Kita lihat saja akan adakah warga Indonesia yang menemukan ide brilian semacam ini dan mempopulerkannya? ;)

Edited by Japan Echo Inc. based on domestic Japanese news sources. Edited and translated in Indonesian by Sprucefir Netsphere. Articles presented here are offered for reference purposes and do not necessarily represent the policy or views of the Japanese Government.

Space Station Now Exist In Shibuya

Youth Culture Hub Gets a Futuristic New Face

The area around Tokyo’s Shibuya Station, long known as a center of youth culture and fashion, is getting a makeover. The symbol of this renewal is the creation of a new subway station in the form of a chichusen, or “underground spaceship.” In comparison with traditional subway stations, which can be rather claustrophobic, this new station feels distinctly open, despite that the subway platforms are located five stories underground in a vast atrium.

lifa080905

The giant, spacious atrium

Platforms Five Stories Down
The area around the new Shibuya Station is being redeveloped as part of the Shibuya Culture Platform Initiatives, which aim to realize “a city that brings people together from around the world, a place where excitement is born and culture is created.”

The distinctive subterranean spaceship serves as a station on the Tokyo Metro Fukutoshin Line, which began operating in June and links three of Tokyo’s major shopping districts: Ikebukuro, Shinjuku, and Shibuya. At present, the Fukutoshin Line runs from Wako City, Saitama Prefecture, south to the new Shibuya Station, although it will eventually extend all the way to Yokohama by joining with the Tokyu Toyoko Line. The “spaceship” is an elliptical structure about 80 meters long and 24 meters wide, and its unique design features a large open space in the center that allows people to peer down at the platform from the concourse floors above. The ticket gates for the new Shibuya Station are on the B2 level, while the platform itself is on the B5 level about 25 meters below ground. People looking up from the platform may very well feel as if they are inside a spaceship.

lifb080905

The route to the platforms

lifc080905

The station’s colorful interior

Use of Natural Energy
The creator of this unprecedented structure is world-famous architect Ando Tadao, who employed various environmentally friendly innovations in its construction. One such example is the use of a ventilation system that harnesses the structure’s innate air flow. The hot exhaust from trains rises and flows out of the atrium, while cool air from the outside is dragged in. The open space in the center of the “spaceship” helps make this possible. There is also a radiant cooling system that uses cooling tubes to circulate cold water beneath the platform floor and inside the ceiling. The use of these systems will reduce the station’s annual carbon dioxide emissions by about 1,000 tons compared with an ordinary subway station.

The Shibuya area has long been a magnet for artists, designers, and other cultural figures and has been the birthplace of unique creations in such areas as music, movies, fashion, and art. The Shibuya Culture Platform Initiatives aim to take advantage of the opening of the new Shibuya Station to build on this tradition by transforming the entire area into a locus for the creation and dissemination of culture. The opening of the new Shibuya Station, where people and nature can coexist, is part of this plan, which also calls for the construction of multipurpose buildings in the area around Shibuya Station that will combine shops and office space with cultural facilities, such as theaters. Culture is firmly at the center of this ambitious transformation of Shibuya.

resource local domestic news network; layout altered by Timo and redirected to Sprucefir Netsphere

Emas Yang Dapat Dimakan (Edible Gold)

Miliki Emasmu dan Makanlah

Sebuah pesan bewarna emas mengapung di kopi

Sebuah pesan bewarna emas mengapung di kopi

Tiny letters float on your cup of coffee, reading “Happy Birthday.” Bright and shiny, they almost seem to be made of gold. In fact, they are! A new form of ultra-fine pure gold that floats on drinks is now being used to enliven refreshments at parties and other events. The sparkling appearance of the gold leaf is luxuriously romantic, and the gold is, of course, completely edible. The product is the result of technology developed by Japan’s “hi-tech goldsmiths,” who are part of a centuries-old tradition of metalworking in Japan.

Huruf-huruf kecil pada secangkir kopi, terbaca, “Selamat Ulang Tahun.” Terang dan berkilau, mereka hampir mirip terbuat dari emas. Pada kenyataannya mereka adalah emas! Bentuk baru dari emas murni berkualitas tinggi yang mengapung pada minumam sekarang banyak digunakan untuk meramaikan atau sebagai penyegaran pada pesrta dan acara lainnya. Penampilan bercahaya dari daun emas sangat mewah dan romantic, dan emasnya tentu saja, 100% persen dapat dimakan. (wew, sayang banget kalau harus makan emas mending dijual ke toko emas -_-;). Yup, produk ini adalah hasil terknologi yang dikembangkan oleh “hi-tech goldsmiths” yang mana merupakan bagian tradisi seabad dari pemberdayaan besi di Jepang.

Metode pencetakan yang unik

Hidangan  penutup yang dihiasi emas

Hidangan penutup yang dihiasi emas

The first company to develop a method of freely manipulating edible pure gold was Tsukioka Co., Ltd., based in Kakamigahara, Gifu Prefecture. The traditional method employed to create gold leaf involves pounding and stretching the gold into thin sheets. Tsukioka instead joins molecules of gold together inside a vacuum pan, creating extremely thin gold leaf that is 99.99% pure and just 0.08 microns thick. To get an idea of how thin this is, it should be noted that 1,000 microns are equal to just one millimeter. So, perhaps gold “film” or “membrane” would be a more apt description. Impurities normally render gold inedible, but with such a high degree of purity, this gold is safe for human consumption.

Perusahaan pertaman yang mengembangkan metode memanipulasi emas murni untuk bisa dimakan adalah Tsukioka Co., Ltd, berlokasi di Kakamigahara, Prefektur Gifu. Metode traditional yang dilakukan untuk menciptakn daun emas melibatkan peleburan dan perentangan emas menjadi lembaran tipis. Akan tetapi Tsukioka mengabungkan molekul emas secara bersama-sama di dalam sebuah wadah vakum, menciptakan daun emas yang sangat tipis yang merupakan 99.99% emas murni dan hanya setebal 0.08 mikron. Untuk mengetahui seberapa tipis emas ini, harus diketahui bahwa 1,000 mikron sama dengan 1 milimeter (hehehe, tipis sekali so penggunaannya hati-hati ya supaya tidak cepat hancur >_<). Jadi, mungkin pengambaraan yang tepat adalah sebuah film emas atau membrane (pernah lihat film dalam untuk kamerakan? Ya, hampir sama seperti itulah). Ketidak murnian dari emas pada umumnya membuat emas tidak dapat dimakan, tapi dengan kemurnian yang tingkat tinggi membuat emas tersebut aman untuk dikonsumsi manusia.

Selembar  daun emas berbentuk malaikat

Selembar daun emas berbentuk malaikat

Once created, this pure gold leaf cannot simply be dropped onto a cup of coffee. The gold leaf is so thin that it crumples easily, making it difficult to work with. However, coupling it with an edible film that dissolves in water makes it easy to handle. Tsukioka devised the idea of printing gold leaf onto this edible and water-soluble film, created with technology the company developed on its own. When placed in a liquid, the film dissolves, leaving a “Happy Birthday” message, angel, star, or other shape floating by itself.

Ketika dibuat, emas murni ini tidak dapat ditaruh begitu saja ke dalam cangkit kopi. Daun emas ini sangat tipis jadi dapat hancur dengan mudah, membuatnya susah untuk digunakan (seperti yang sudah disebutkan hanya setebal 0,08 mikron o_O). Akan tetapi, memasangkannya dengan film yang aman dimakan yang larut di dalam air membuatnya jadi muda untuk digunakan. Tsukioka mengemukakan sebuah gagasan untuk mencetak dain emas ke film yang aman dimakan dan larut dalam air tersebut, menciptakannya dengan menggunkan teknologi yang dikembangkan perusahaan itu sendiri. Ketika diletakan pada sebuah cairan, film akan larut, meniggalkan pesan “selamat ulang tahun”, malaikat, bintang atau bentuk lainnya mengapung dengan sendirinya.

There are currently 42 messages and designs available. The film is wound into a roll, and pieces are peeled off one at a time. With the smallest-sized packages at just ¥525 ($4.38 at ¥120 to the dollar), it is not at all expensive for a product made of pure gold. Messages and designs can also be custom made, although only for large-volume orders of ¥65,000 ($542) or more. Also on sale are a gold-leaf powder that can be used to decorate cakes and other confections, available in spray-can form, and a sprinkle-on flake type.

Kaleng Semprot yang Berisi Bubuk Emas

Kaleng Semprot yang Berisi Bubuk Emas

Sekarang ada sekitar 42 pesan dan design yang tersedia. Sedangkan filmnya dibentuk menjadi gulungan dan bagiannya dirobek sebanyak satu buah per konsumsi. Paket terkecil seharga ¥525 ($4.38 pada saat ¥120 terhadap dollar atau sekitar Rp. 45,990), harg yang cukup murah untuk produk yang terbuat dari emas murni. Pesan dan design juga dapat dibuat sendiri, meskipun hanya untuk pemesanan partai besar yang seharga ¥65,000 ($542 atau sekitar Rp. 5,691,000) atau lebih. Selain itu penjualan bubuk daun emas dapat digunakan menghiasi kue dan penganan lainnya, tersedia dalam bentuk kaleng semprot, dan sejenis serpihan. (pertanyaannya sekarang akankah harga tersebut naik melambung tinggi seiring dengan meningkatnya harga emas? -_o)

Sebuah Tradisi Emas

Marco Polo introduced Japan to European readers as “Zipang, the country of gold” in The Travels of Marco Polo more than 700 years ago, and the Japanese have long utilized gold and silver in a wide variety of ways. In addition to fashioning these precious metals into jewelry, Japanese craftspeople have used gold flakes and powder to decorate lacquerware, byobu (decorative folding screens), and other handicrafts, in addition to sprinkling it on special dishes or placing it inside bottles of sake. Given this history, the idea of consuming gold with food or drink is not at all foreign to the Japanese.

Marco Polo memperkenalkan Jepang ke pembaca Eropa sebagai “Zipang, Negara emas” dalam perjalannya yang lebih dari 700 tahun lalu, dan orang Jepang sudah lama sekali membudidayakan emas dan perak dalam berbagai cara. Sebagai tambahan untuk memperkenalkan logam mulai ini mejadi perhiasan, pengrajin Jepang menggunakan serpihan emas dan bubuk emas untuk menghiasi layar lipat (sejenis tirai lipat dari kayu atau logam @_@), dan kerajinan tangan lainnya, selain itu membuat berkilau makanan khusus ataupun meletakannya di dalam botol sake. Berdasarkan sejarah ini, gagasan untuk mengkonsumsi emas dengan makanan dan minuman bukanlah sesatu yang asing bagi orang Jepang. Okay, That’s all folks for today. See you next time and stay tune at this site, Ja’ne ^_^

Copyright © Web Japan Organization. Diedit dalam bahasa Inggris oleh Japan Echo Inc berdasarkan sumber berita local Jepang. Diterjemahkan dan diedit kembali dalam bahasa Indonesia oleh Sprucefir Netsphere. Artikel disini disajikan dengan tujuan sebagai informasi yang bermanfaat bukan mewakilkan kepentingan dan sudut pandang pemerintah Jepang.

Kesuksesan Manis (Sweet Success)

Konsumen Menikmati Produk Berbentuk Hidangan Penutup

Sangat mirip dengan aslinya. Repos Gateau yang ® ©Flower Nagano

Sangat mirip dengan aslinya. Repos Gateau yang ® ©Flower Nagano

What is your favorite dessert? Is it cake? Crème caramel? Chocolate? Ice cream, maybe? Kids and grown-ups alike derive great pleasure from eating their favorite sweets. Knickknacks and daily necessities that tap into the power of desserts to make people happy are becoming increasingly popular. These products cannot be eaten, of course, but so closely do they resemble sweets in shape, color, and texture that you are almost tempted to gobble them up. Many of them even smell delicious!

Apa hidangan penutup favoritmu? Apakah cake? Crème caramel? Coklat? Es Krim, mungkin? (atau mungkin petey >.< *spoiler* on). Anak-anak dan orang dewasa sama-sama mendapatkan kepuasan ketika memakan penganan favorit mereka. Pernak-pernik dan keperluan sehari-hari yang mengambil kekuatan dari hidangan penutup membuat orang bahagia dan menjadi popular. Oops, produk ini tidak dapat dimakan tentunya, tapi lihat dengan seksama mereka sangat mirip dengan penganan baik dalam bentuk, warna, dan texture yang hampir menggoda anda untuk memakannya. Bahkan banyak diantara mereka yang mempunyai aroma lezat! (Perhatian! Jauhakn produk-produk tersebut dari jangkauan anak-anak supaya tidak temakan mereka, hehehe ^_^).

Busa Sabun Es Krim, Sabun Batangan Coklat!!
Bath products store Bathing is attracting more and more repeat customers with its cute and trendy sweet-shaped bath and shower products. These include ice cream Bath Whip and a body rinse that you spread on like jam. The interior of the store looks like an ice cream parlor! Colorful body soaps and massage scrubs are lined up in showcases like different flavors of ice cream. There are vanilla, chocolate mint, caramel, and other aromas—all with the exact same appearance and texture as real ice cream. And when you make a purchase, the products are even measured into cups the same as ice cream. The Bathing series also includes soaps made to look like bars of chocolate, complete with foil and wrapping; they even emanate chocolate’s sweet aroma. Towels printed with chocolate parfaits and miniature cakes are available, too.

Toko peralatan mandi menarik banyak konsumen dengan produk mandi yang berbentuk penganan yang trendy dan lucu. PRoduk juga meliputi krim mandi seperti es krim dan sabun mandi yang kau oleskan seperti selai. Bahkan ruangan toko mirip sekali dengan toko es krim! (oh, nanti orang bisa salah kira itu Baskin Robin?! Hehehe). Sabun mandi berwarna-warni, scrub pijat terpajang di etalase seperti es krim berbagai rasa. Ada vanilla, chocolate mint, caramel, dan aroma lainnya yang semuanya memiliki penampilan dan texture yang sama seperti eskrim sesungguhnya (sayab ingaykan kepada anda untuk tidak mamakannya sebab tidak ada yang menganggung bila mulut anda berbusa o_O). Dan ketika anda melakukan pembayaran, produk tersebut juga diukur dalam takaran mangkuk sama seperti es krim. Produk mandi lainnya adalah sabun yang berbentuk seperti coklat batangan, lengkap dengan alumunium foil dan bungkusnya; mereka bahkan mengeluarkan aroma manis dari coklat (jangan pernah taruh di kulkas!). Handuk yang dicetak dengan parfait coklat dan miniature cakes juga tersedian.

Kreasi yang dapat digunakan sebagai hiasan ruangan. Repos Gateau® ©Flower Nagano

Kreasi yang dapat digunakan sebagai hiasan ruangan. Repos Gateau® ©Flower Nagano

Kue dengan topping yang terbuat dari bunga yang diawetkan.
Also popular in Japan these days are artificial cakes decorated with preserved flowers called Repos Gateau®, a name combining the French words for “relaxation” and “cake.” Originally sold in flower shops, these imitation cakes use lace and carpenter’s sealer instead of fresh cream, preserved flowers instead of strawberries, and come decorated with Swarovski handcrafts. Preserved flowers have freshness and texture that sets them apart from dried flowers. Seeing them in bloom atop the cake makes people feel refreshed. And since the flowers will not wither for several years, they can be given away as presents or used to decorate your room.

Sekarang sedang tren kue buatan yang dihiasi oleh bungan yang diawetkan  yang disebut sebagai Repos Gateau ®, sebuah nama yang mengabungkan bahasa Prancis “relaksasi” dan “cake”. Pada awalnya dijual di toko-toko bunga, kue imitasi menggunakan cairan pemoles kayu sebagai pengganti krim segar, bunga yang diawetkan pengganti strawberry, dan dihiasi juga dengan kerajinan tangan Kristal Swarovski. Bunga yang diawetkan mempunyai kesegaran dan terkstur yang membedakan mereka dengan bunga kering. Melihat mereka berbunga di atas kue membuat orang merasa segar kembali (walau saya secara pribadi merasa sayang jika kue harus seperti itu secara saya anggap kue itu harus dimakan >_<). Dan semenjak bunga tidak layu untuk beberapa tahun  mereka dapat diberikan sebagai hadiah atau digunakan untuk menghiasi ruangan.

Penghapus berbentuk kue tart ©Iwako

Penghapus berbentuk kue tart ©Iwako

Erasers are another popular item featuring dessert motifs. Iwako, a Japanese eraser company, makes over 200 kinds of erasers shaped exactly like cakes, crème caramel, donuts, and Japanese-style sweets. The most popular eraser in the firm’s lineup is shaped like strawberry shortcake. These items are so realistic that quite a few children choose not to use their erasers, instead treasuring them as collectibles.

Penghapus juga merupakan salah satu barang popular lainnya yang menggunakan motif hidangan penutup. Iwako, perusahaan Jepang penghasil penghapus, membuat lebih dari 200 macam penghapus yang berbentuk sama seperti cake, crème caramel, donuts, dan penganan khas Jepang lainnya. Yang paling popular adalah penghapus yang berbentuk strawberry shortcake. Barang tersebut sangat realistis sehingga cukup banyak anak-anak yang lebih memilih tidak menggunakannya sebagai penghapus melainkan disimpan sebagai barang koleksi.

A strawberry ice cream eraser ©Iwako

A strawberry ice cream eraser ©Iwako

Desserts are now a big hit as fashion motifs, too. Cupcake and ice cream print t-shirts and bags with candy designs are a hit with the fashion conscious, and donuts, cookies, and ice cream are inspiring cute nail art. Decoden, shiny accessories for decorating your mobile phone, are appearing in shapes like chocolates, cookies, and ice cream. Sweets certainly have the power to fascinate all generations!

Hidangan penutup sekarang sedang ngetrend sebagai motif fashion.T-shisrt bergambar cupcake dan es krim dan tas dengan design permen mendapat tempat tersendiri dalam trend fashion, dan juga ada seni kuku yang lucu terinspirasi dari donuts, cookies, dan eskrim. Decoden, perhiasan berkilau untuk menhiasi handphone anda, sekarang muncul berbentuk seperti coklat, cookies (kue kering), dan eskrim. Manisan tentu punya kekuatan sendiri untuk membuat kagum semua generasi. That’s all folks for this time. See you next time and stay tune at this site ^_^

Inovasi Sayur-sayuran

Cara baru untuk menikmati diet sehat

Sayur-sayuran selalu menjadi salah satu pilihan ya

Whole tomato salad. (C)Celeb de Tomato

Whole tomato salad. (C)Celeb de Tomato

ng paling terkenal bagi orang-orang yang ingin memperbaiki kebiasaan makan mereka, dan sekarang penyajian sayur-sayuran di dalam bisnis kuliner mulai mendapatkan popularitas. Dari restoran yang menunya mengkhusukan diri pada suatu jenis sayuran sampai ke penganan yang menawarkan kue sayuran dan manisan lainnya, pemanfaatan sayur-sayuran yang innovatif menjadikan kebiasaan makan sayur-sayuran mulai memasuki gaya hidup masyarakat.

Specially selected grilled pork with tomato juice. (C)Celeb de Tomato

Specially selected grilled pork with tomato juice. (C)Celeb de Tomato

Kebiasaan memakan tomat nampaknya mulai mendapatkan kepopulerannya khususnya di Negara Jeapang. Di Jepang, tomat seringkali dimakan mentah-mentah pada salad, dan Variasi yang paling popular adalah varian yang memiliki isi yang padat dan rasa yang lebih kea rah manis daripada asam. Variasi yang lebih luas pada tomat sekarang sudah tersedia di toko-toko dewasa ini, seperti buah tomat yang memiliki kandungan gula yang tingi, dan para juru masak tela sibuk menciptakan cara unik menyajikan hidangan kepada para pecinta kuliner agar dapat menikmati masing-masing variasi rasa dan tekstur tomat itu. (Patut ditiru dan dikreasikan oleh kita sebagai bangsa agraris budaya makan sayur seperti ini -_o)

Green soybean cheesecake. (C)pâtisserie Potager

Green soybean cheesecake. (C)pâtisserie Potager

Celeb de Tomato adalah restoran di Tokyo yang menjadi populer berkat komitmennya untuk menyajikan hidangan tomat yang belum pernah dicicipi sebelumnya. Di sini para pengunjung dapat mencicipi berbagai jenis tomat, termasuk tomat hijau kecil, tomat putih, dan tomat hitam yang rasa manisnya terdapat sedikit rasa pahit. Dengan kata lain hidangan restoran ini menyajikan atau menyertakan tomat baik dalam menu pembuka, utama, bahkan menu penutup. Menu-menu terdapat hidangan salad tomat, hidangan laut dan daging pun menyertakan saus tomat segar, serta roti tomat. Salah satu yang menjadi menu andalan dalam hidangan penutup adalah tomat mentah brulee dan kue gulung dengan selai tomat bikinan sendiri.

Green asparagus and vanilla mousse. (C)pâtisserie Potager

Green asparagus and vanilla mousse. (C)pâtisserie Potager

Hidangan penutup dengan kalori yang sehat selalu menjadi pertimbangan utama ketika memakan kue dan manisan, dan ini adalah salah satu area lainnya dimana sayuran digunakan untu menciptakan hidangan sehat yang lezat. Patisserie Potager adalah toko kue berbasis sayuran yang dibuka di Tokyo, 2006. Toko ini mendukung para petani dan menyediakan pendidikan nutrisi melalui produknya, yang mana berdasarkan cara untuk untuk mencampurkan sayur-sayuran kedalam hidangan penutup, menjadi suatu experiment yang menghasilkan kreasi dengan berbagai rasa yang tidak terduga. Salah satu kekhasannya adalah kue bolu hijau yang dibuat dari komatsuna murni (komatuna : mayonnaise bayam Jepang) yang diapit dengan tomat dan krim segar, menjadi populer semenjak toko pertama kali dibuka. Kombinasi mengejutkan lainnya adalah kue keju yang dicampur dengan kacang kedelai hijau dan dua lapis asparagus hijau, dan juga saus vanilla yang terbungkus kue bolu the panggang.

Jus yang terbuat dari buah dan sayurang segar menjadi cara populer untuk para konsumen yang sadar akan kesehatan dalam menikmati konsumsi harian sayur-sayuran mereka. Kios jus segar menjamur dan menjadi pemandangan yang biasa di kota-kota besar. Salah satu jus yang untuk adalah jus bayam yang dicampur dengan melon dan jambu guava menjadi salah satu pilihan jus penuh nutrisi di kala sibuk-sibuknya dan kebanyakan orang mengkonsumsi suplemen dalam dietnya.

Daya tarik dari kacang kedelai dan tauge yang sehat juga mendapatkan sorotan oleh karena manfaat kesehatannya. Tauge telah lama digunakan dalam berbagai masakan Jepang – misalnya, digoreng dan sup miso. Sebagai tambahan sebagai makanan yang banyak mengandung potassium, vitamin c, serat, dan nutrisi lainnya; makanan tersebut sangat terjangkau harganya (*secara tauge getu lho… -_-;) dan bertambah popular akhir-akhir ini. Banyak fakta yang menunjukan bahwa buku panduan masak yang menyertakan berbagai resep dengan menggunakan tauge membuktikan kesukesanny, buku paduan tersebut terjual 100,000 kopi dalam setahun. Restaurant juga menambahkan tauge dalam menu mereka seperti sprout quiche dan sprout spring rolls (ya, ampun di Indonesia mah tauge Cuma dijual 500 perak ama tukang gorengan :p) That’s all folks!

Source: web-japan.org

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.