September 21, 2009
oleh Sprucefir (トウヒ)
Miliki Emasmu dan Makanlah

Sebuah pesan bewarna emas mengapung di kopi
Tiny letters float on your cup of coffee, reading “Happy Birthday.” Bright and shiny, they almost seem to be made of gold. In fact, they are! A new form of ultra-fine pure gold that floats on drinks is now being used to enliven refreshments at parties and other events. The sparkling appearance of the gold leaf is luxuriously romantic, and the gold is, of course, completely edible. The product is the result of technology developed by Japan’s “hi-tech goldsmiths,” who are part of a centuries-old tradition of metalworking in Japan.
Huruf-huruf kecil pada secangkir kopi, terbaca, “Selamat Ulang Tahun.” Terang dan berkilau, mereka hampir mirip terbuat dari emas. Pada kenyataannya mereka adalah emas! Bentuk baru dari emas murni berkualitas tinggi yang mengapung pada minumam sekarang banyak digunakan untuk meramaikan atau sebagai penyegaran pada pesrta dan acara lainnya. Penampilan bercahaya dari daun emas sangat mewah dan romantic, dan emasnya tentu saja, 100% persen dapat dimakan. (wew, sayang banget kalau harus makan emas mending dijual ke toko emas -_-;). Yup, produk ini adalah hasil terknologi yang dikembangkan oleh “hi-tech goldsmiths” yang mana merupakan bagian tradisi seabad dari pemberdayaan besi di Jepang.
Metode pencetakan yang unik

Hidangan penutup yang dihiasi emas
The first company to develop a method of freely manipulating edible pure gold was Tsukioka Co., Ltd., based in Kakamigahara, Gifu Prefecture. The traditional method employed to create gold leaf involves pounding and stretching the gold into thin sheets. Tsukioka instead joins molecules of gold together inside a vacuum pan, creating extremely thin gold leaf that is 99.99% pure and just 0.08 microns thick. To get an idea of how thin this is, it should be noted that 1,000 microns are equal to just one millimeter. So, perhaps gold “film” or “membrane” would be a more apt description. Impurities normally render gold inedible, but with such a high degree of purity, this gold is safe for human consumption.
Perusahaan pertaman yang mengembangkan metode memanipulasi emas murni untuk bisa dimakan adalah Tsukioka Co., Ltd, berlokasi di Kakamigahara, Prefektur Gifu. Metode traditional yang dilakukan untuk menciptakn daun emas melibatkan peleburan dan perentangan emas menjadi lembaran tipis. Akan tetapi Tsukioka mengabungkan molekul emas secara bersama-sama di dalam sebuah wadah vakum, menciptakan daun emas yang sangat tipis yang merupakan 99.99% emas murni dan hanya setebal 0.08 mikron. Untuk mengetahui seberapa tipis emas ini, harus diketahui bahwa 1,000 mikron sama dengan 1 milimeter (hehehe, tipis sekali so penggunaannya hati-hati ya supaya tidak cepat hancur >_<). Jadi, mungkin pengambaraan yang tepat adalah sebuah film emas atau membrane (pernah lihat film dalam untuk kamerakan? Ya, hampir sama seperti itulah). Ketidak murnian dari emas pada umumnya membuat emas tidak dapat dimakan, tapi dengan kemurnian yang tingkat tinggi membuat emas tersebut aman untuk dikonsumsi manusia.

Selembar daun emas berbentuk malaikat
Once created, this pure gold leaf cannot simply be dropped onto a cup of coffee. The gold leaf is so thin that it crumples easily, making it difficult to work with. However, coupling it with an edible film that dissolves in water makes it easy to handle. Tsukioka devised the idea of printing gold leaf onto this edible and water-soluble film, created with technology the company developed on its own. When placed in a liquid, the film dissolves, leaving a “Happy Birthday” message, angel, star, or other shape floating by itself.
Ketika dibuat, emas murni ini tidak dapat ditaruh begitu saja ke dalam cangkit kopi. Daun emas ini sangat tipis jadi dapat hancur dengan mudah, membuatnya susah untuk digunakan (seperti yang sudah disebutkan hanya setebal 0,08 mikron o_O). Akan tetapi, memasangkannya dengan film yang aman dimakan yang larut di dalam air membuatnya jadi muda untuk digunakan. Tsukioka mengemukakan sebuah gagasan untuk mencetak dain emas ke film yang aman dimakan dan larut dalam air tersebut, menciptakannya dengan menggunkan teknologi yang dikembangkan perusahaan itu sendiri. Ketika diletakan pada sebuah cairan, film akan larut, meniggalkan pesan “selamat ulang tahun”, malaikat, bintang atau bentuk lainnya mengapung dengan sendirinya.
There are currently 42 messages and designs available. The film is wound into a roll, and pieces are peeled off one at a time. With the smallest-sized packages at just ¥525 ($4.38 at ¥120 to the dollar), it is not at all expensive for a product made of pure gold. Messages and designs can also be custom made, although only for large-volume orders of ¥65,000 ($542) or more. Also on sale are a gold-leaf powder that can be used to decorate cakes and other confections, available in spray-can form, and a sprinkle-on flake type.

Kaleng Semprot yang Berisi Bubuk Emas
Sekarang ada sekitar 42 pesan dan design yang tersedia. Sedangkan filmnya dibentuk menjadi gulungan dan bagiannya dirobek sebanyak satu buah per konsumsi. Paket terkecil seharga ¥525 ($4.38 pada saat ¥120 terhadap dollar atau sekitar Rp. 45,990), harg yang cukup murah untuk produk yang terbuat dari emas murni. Pesan dan design juga dapat dibuat sendiri, meskipun hanya untuk pemesanan partai besar yang seharga ¥65,000 ($542 atau sekitar Rp. 5,691,000) atau lebih. Selain itu penjualan bubuk daun emas dapat digunakan menghiasi kue dan penganan lainnya, tersedia dalam bentuk kaleng semprot, dan sejenis serpihan. (pertanyaannya sekarang akankah harga tersebut naik melambung tinggi seiring dengan meningkatnya harga emas? -_o)
Sebuah Tradisi Emas
Marco Polo introduced Japan to European readers as “Zipang, the country of gold” in The Travels of Marco Polo more than 700 years ago, and the Japanese have long utilized gold and silver in a wide variety of ways. In addition to fashioning these precious metals into jewelry, Japanese craftspeople have used gold flakes and powder to decorate lacquerware, byobu (decorative folding screens), and other handicrafts, in addition to sprinkling it on special dishes or placing it inside bottles of sake. Given this history, the idea of consuming gold with food or drink is not at all foreign to the Japanese.
Marco Polo memperkenalkan Jepang ke pembaca Eropa sebagai “Zipang, Negara emas” dalam perjalannya yang lebih dari 700 tahun lalu, dan orang Jepang sudah lama sekali membudidayakan emas dan perak dalam berbagai cara. Sebagai tambahan untuk memperkenalkan logam mulai ini mejadi perhiasan, pengrajin Jepang menggunakan serpihan emas dan bubuk emas untuk menghiasi layar lipat (sejenis tirai lipat dari kayu atau logam @_@), dan kerajinan tangan lainnya, selain itu membuat berkilau makanan khusus ataupun meletakannya di dalam botol sake. Berdasarkan sejarah ini, gagasan untuk mengkonsumsi emas dengan makanan dan minuman bukanlah sesatu yang asing bagi orang Jepang. Okay, That’s all folks for today. See you next time and stay tune at this site, Ja’ne ^_^
Copyright © Web Japan Organization. Diedit dalam bahasa Inggris oleh Japan Echo Inc berdasarkan sumber berita local Jepang. Diterjemahkan dan diedit kembali dalam bahasa Indonesia oleh Sprucefir Netsphere. Artikel disini disajikan dengan tujuan sebagai informasi yang bermanfaat bukan mewakilkan kepentingan dan sudut pandang pemerintah Jepang.
Like this:
Be the first to like this post.
Comments